Tips Menulis

 

 

Menulis dongeng dan cerita untuk anak tentu berbeda dengan menulis untuk orang dewasa. Ada banyak hal yang harus diperhatikan. Bingung? Simak beberapa catatan berikut:

1. Mencari ide cerita.

Pada dasarnya ide cerita anak itu bisa datang dari mana saja. Ini ada beberapa yang sering menjadi inspirasi bagi beberapa penulis:

  • Kegiatan sehari-hari, misalnya memasak, berkebun, belajar dan bagaimana asyiknya ketika kita melakukannya.
  • Kegiatan liburan, berkemah, memancing, piknik, berenang.
  • Pengetahuan, misalnya tentang anatomi hewan, seperti apa beda itik dan ayam, kenapa burung dara bisa terbang dan ayam enggak, atau seperti perilaku hewan, seperti ulat yang berubah jadi kupu-kupu, kelinci yang berkuping panjang dan lain-lain. Bisa juga tentang alam semesta, seperti terjadinya angin (dengan percobaan), pengetahuan tentang bintang dan sebagainya.

 

2. Sisipkan pesan moral.

Setelah ada ide cerita, kembangkan dengan menyisipkan pesan moral, misalnya menghormati sesama, menghargai teman dan makhluk Tuhan yang lain, bersyukur atas apa yang kita punya atau semangat berbagi. Anak-anak harus mendapatkan pesan positif dengan membaca dongeng atau cerita anak, karena cerita anak ini kan menjadi alat pendidik anak-anak.

3. Mulai menulis

Lalu mulailah menulis. Ketika akan menulis, posisikan diri sebagai seorang anak, yang sedang bercerita kepada temannya. Karena seorang teman yang sedang bercerita, jadi biasanya ceritanya sendiri akan mengalir lancar dan lugas. Inilah ciri khas sebuah cerita anak. Ingat juga, walaupun ini akan dikonsumsi oleh anak-anak, kita harus tetap mengutamakan logika cerita.

4. Sederhanakan alur.

Alur yang biasa digunakan adalah alur maju sederhana saja, A- Z. Hindari alur flashback, apalagi campuran. Anak-anak akan bingung membacanya. Anggap saja, mereka membaca sendiri tanpa didampingi oleh orang tua. Jadi harus sesederhana mungkin agar mereka langsung mengerti jalannya cerita.

5. Ending.

Usahakan untuk selalu ber-happy ending. Ini kalau mau lebih safe. Walaupun ada saran untuk tetap sisipkan bahwa “hidup tak seindah cerita dongeng”, tapi harus pandai-pandai mengolah cerita.

6. Hindari yang berikut ini:

  • Kata-kata makian: bego, geblek, tolol dan lain-lain.
  • Adegan kasar: tabok, tampar, mengumpat dan lain-lain.
  • Kata ganti orang seperti “elu”, “gue”, dan “kau”. Lebih baik pergunakan “aku”, “saya” dan “kamu”.

 

Jadi?

Yuk, mulai nulis sekarang. Lalu, kirimkan!