RedCarra tagged posts

Cipi dan Fipi Si Merpati Pos Kerajaan

Cipi Fipi

Ilustrasi: Latree

Pada zaman dahulu, hiduplah dua ekor merpati, Si Cipi dan Si Fipi namanya. Kedua merpati itu merupakan merpati kerajaan. Mereka bertugas untuk mengantarkan surat dari ibu kota kerajaan ke desa-desa yang jauh, dan menyampaikan pesan-pesan sang Raja kepada para tetua desa. Pada masa itu, memang untuk menyampaikan kabar, orang-orang menggunakan jasa burung merpati.

Namun, tak semua burung merpati bisa melakukan tugas sebagai merpati pos. Hanya merpati dewasa yang mempunyai sayap yang kuat saja yang mampu terbang jauh. Selain itu, merpati itu juga harus cerdik, karena mereka harus tahu arah desa yang dituju, dan tidak boleh sampai salah tujuan desa...

Read More

Untuk Mang Ujang

Teng! Teng! Teng!

Lonceng berbunyi. Murid-murid kelas tiga SD Cerdas Merdeka berhamburan, juga kelas-kelas yang lain. Mereka menyerbu area kantin sekolah. Di kantin ada berbagai gerobak yang menjual berbagai macam makanan, camilan dan minuman. Ada gerobak soto Pak Maman, ada gerobak ketoprak Bang Maun, ada sup buah Bu Eti dan lain-lain.

Yang paling ramai tentu saja gerobak siomay Mang Ujang. Siomay-nya enak sekali. Tak hanya siomay, Mang Ujang juga menyediakan telur rebus, kentang dan juga tahu yang juga berisi siomay. Mau rebus saja, atau digoreng, tinggal bilang. Bumbu kacangnya juga ada dua macam, yang pedas dan yang tak pedas. Anak-anak boleh memilih yang mana saja yang mereka suka. Dan tahukah kamu, berapa harga satu siomay-nya? Rp 500,00. Iya, murah sekali ya?

Selain siomay yang mura...

Read More

Kemenangan bagi Alya

Malam sudah menjelang. Ayah mengambil satu buku dongeng yang ada di rak buku di samping pintu kamar Alya. Diketuknya pintu kamar Alya, dan kemudian Ayah pun masuk ke dalam.

Ada yang aneh. Ketika Ayah masuk, dilihatnya Alya sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya, sambil memandang ke luar jendela. Seperti ada yang dipikirkan.

Ayah mendekat, dan bertanya, “Kenapa, Al? Sepertinya anak Ayah sedang galau nih.”

Alya menoleh, dan tertawa pelan. “Ah, Ayah. Mmmm… enggak sih Yah. Cuma Alya lagi takut.”

“Takut? Kenapa?”

“Ini… Mmm… Tentang olimpiade Matematika minggu depan.”

Ayah tetap diam, mendengarkan.

“Alya… Alya takut, nggak bisa menang,” ujar Alya lirih.

Ayah tersenyum, memaklumi.

“Menurut Ayah, untuk meraih cita-citamu, kamu harus yakin pada dirimu sendiri bahwa kamu bi...

Read More

Lampion Uno

stock-illustration-11738696-lion-dancing-and-large-drum-drama-for-happy-new-year

“Mau main apa kita hari ini?” tanya Uno sambil menyambar segelas air putih yang sudah disiapkan Ibu di atas meja.

Hari ini hari Minggu. Hari bebas sedunia.

Mimi, masih menyendokkan suapan nasi terakhir ke mulut. Sambil membawa piring ke dapur, Mimi berkata, “Aku pengen ke rumah Chen.”

“Ada apa ke sana?”

“Kemarin Chen bilang, sebentar lagi Imlek. Dia memintaku untuk mampir ke sana, karena aku ingin tahu apa saja yang mereka persiapkan.”

“Wuih, iyakah, Bu? Sebentar lagi Imlek ya?” tanya Uno pada Ibu yang sedang membereskan meja makan.

“Iya. Dua hari lagi.”

“Wah, yuk ke sana! Browniesnya Tante Liem kan enak. Siapa tahu lagi bikin, dan siapa tahu kita bisa kebagian angpau juga,” kata Uno sambil terkekeh.

“Heh! Membantu orang itu ga boleh mengharapkan imbalan...

Read More

Momon Gatal

Momon monyet sedang bingung.

Lho, kenapa ya?

Itu dia sedang duduk di depan jendelanya. Apa yang sedang dia lakukan? Heboh sekali!

Ooohh, dia menggaruk-garuk semua bagian tubuhnya. Lehernya, perutnya, tangannya, kakinya, bahkan ekornya! Kenapa, Momon?

Brezel, si Ular Bermata Hijau, yang tinggal di bawah pohon tempat tinggal Momon merayap naik untuk mengetahui apa yang terjadi.

“Hei, Mon! Sedang apa kamu?”

Read More

Celengan Uno

“Ayah pulaaaang…!” teriak Mimi dari ruang depan.

Uno yang sedang sibuk mewarnai gambar di bukunya dengan cepat berdiri dan berlari menyongsong Ayah yang baru pulang dari kantor. Tapi, sepertinya ada sesuatu dibawa Ayah. Oh… dan dibawa Mimi juga.
Apa itu?
“Nih, Uno, buatmu satu,” kata Ayah sambil mengulurkan sesuatu yang dibawanya.
“Apa ini, Yah?” tanya Uno sambil mengamati barang yang kini sudah berpindah ke dalam tangannya.
Bentuknya sih ayam. Tapi dari apa ya ini? Keras.
“Itu celengan,” jelas Ayah sambil melepaskan sepatu di ruang tamu. “Dibuat dari tanah liat.Kalau jatuh dia bisa pecah. Seperti gelas-gelas Ibu itu. Makanya kamu harus hati-hati.”
“Celengan?” Uno mengangkat alisnya.
“Iya, celengan. Buat nabung,” Mimi yang menjawab.
“Nabung ap...
Read More