Latree Manohara tagged posts

Belajar Berenang

Mimi duduk diam di lantai kamarnya. Di hadapannya masih terlipat rapi baju renang yang dibelikan Ibu kemarin.

Dua minggu yang lalu Pak Musa guru olah raga memberikan pengumuman. Mulai bulan ini akan ada kegiatan tambahan untuk pelajaran olah raga. Latihan berenang dua minggu sekali di kolam berenang umum tidak jauh dari sekolah. Teman-teman sekelasnya gembira sekali mendengar pengumuman itu. Tapi Mimi tidak.

Uno mengintip dari balik daun pintu yang tidak ditutup. Sekilas terlintas ide usilnya ingin mengageti Mimi. Tapi niat itu diurungkan, melihat wajah Mimi yang kusut.

“Mimi…” bisik Uno masih dari balik pintu.

“Ya Uno?”

“Boleh aku masuk?”

“Ya…”

Uno masuk dan langsung duduk di hadapan Mimi.

“Besok Mimi latihan berenang ya?”

Mimi mengangguk.

“Jam berapa?”

“Sepulang s...

Read More

Rido Ingin Naik Motor.

Rido mengayuh sepedanya mengelilingi blok. Ini sudah kedua kalinya. Dia mulai bosan, lalu memutuskan untuk bersepeda keluar blok. Yang penting tidak ke jalan raya, seperti pesan Mama. Baiklah, ke blok sebelah saja, di sana ada lapangan yang sudah disulap menjadi trek tantangan untuk sepeda.

Tapi lapangan itu sepi. Cuma ada seekor ayam betina yang sedang mengais-ngais, dikelilingi tujuh ekor anaknya yang menciap-ciap.

Rido mengayuh malas ke ujung lapangan, lalu pelan melintasi berbagai rintangan. Gundukan yang kecil, yang besar. Tiang-tiang zig-zag. Setelah satu putaran dia menambah kecepatan. Penuh semangat. Dia berhasil  melompat cukup tinggi di gundukan paling sulit.

Tapi sepi. Tidak ada sorak. Hanya dia sendiri yang berteriak. Mengejutkan ayam-ayam yang sedang mencari makan.

Ini tidak ...

Read More

Terang Bulan

“Aaaaaah…!” teriak Uno dari kamar.

Terdengar suara pintu dibuka tergesa. Lalu…

KLONTAAANG…!!

Dan terdengar ‘Aaaaaah…!’ yang lain lagi.

Mimi keluar dari kamarnya perlahan. Berjalan berhati-hati sambil meraba dinding. Gelap. Mati lampu.

Di dapur, Ibu sedang mencari-cari lilin. Ayah membuka pintu depan. Tidak lama kemudian Ibu datang di ruang tengah, masih memegang senter. “Kita kehabisan lilin, tinggal ini…”

Ibu menunjukkan sebatang, ng… mungkin lebih tepat disebut sepotong, lilin yang sudah terpakai. Tinggal kurang lebih seruas jari Ibu.

“Waduh…”  desah Mimi dan Uno hampir bersamaan.

“PR-mu sudah selesai, Uno?” tanya Mimi.

“Sudah sih… tadi aku sedang masuk-masukkan buku untuk sekolah besok.”

“Aku juga sudah. Tadi sedang baca komik...

Read More

NIKO

Gina menyayangi Niko, seperti dia menyayangi adiknya sendiri. Meski Niko terkadang nakal, mengambil kue tanpa ijin, bermain-main dengan prakarya yang dikerjakan Gina sampai berantakan, naik ke kasur dengan kaki yang masih kotor sehabis jalan-jalan di luar… Tapi Gina tidak pernah bisa marah pada Niko. Niko selalu menyenangkan diajak bermain. Dia paling suka bermain bola. Gina melempar bola ke kejauhan, nanti Niko akan berlari mengambil dan membawanya kembali kepada Gina. Niko juga suka bermain kejar-kejaran.

Niko menghibur Gina yang sedih karena harus pindah rumah. Sebelum akhirnya Gina mengenal dan mendapat teman-teman baru, Niko yang membantunya menghalau rasa sepi sendiri. Niko mengambilkan boneka kesayangan Gina yang masih belum dikeluarkan dari kardus...

Read More

Pemetik Beri Peri Fufi

Semua anak di Sekolah Peri pulang dengan wajah gusar. Tunggu, kenapa gusar? Bukankah mulai besok mereka akan menikmati libur musim panas selama dua bulan penuh?

“Ah… Ibu Peri Tera selalu punya cara untuk mengganggu liburan kita!” keluh Peri Dudi. Iya.

“Iya, katanya libur, tapi tetap saja disuruh bikin tugas,” sahut Peri Nuni.

“Tugasnya sulit pula!” Peri Tuti tak mau kalah.

Peri Fufi sedari tadi terbang saja di belakang mereka tidak ikut berkomentar. Memang sih, tugas yang harus dikerjakan selama liburan itu tidak terlalu menyenangkan…

Read More

Liburan di Rumah Nenek.

Rural landscape Royalty Free Stock Vector Art Illustration
Mimi dan Uno baru saja menerima rapor kenaikan kelas. Setelah ini libur tiga pekan. Yay.
Tapi… kenapa keduanya malah terlihat cemberut?
“Mimi nggak mau liburan di rumah Nenek. Di sana sepi. Nggak ada teman. Jauh dari toko. Jauh dari jalan. Nggak ada angkot. Ke mana-mana jauh. Kakek sudah nggak berani naik motor, nggak bisa nganter kalau  kita pengin beli es krim ke pasar…”
“Uno juga nggak mau liburan di desa. Yaaa…. sebenarnya di desa itu asyik. Ada sawah, ada kali, dekat bukit. Tapi pasti Nenek dan Kakek melarang setiap kita mau keluar rumah. Nggak boleh ke kali, berbahaya. Nggak boleh ke sawah, panas! Nggak boleh ke hutan, nanti ada macan!”
“Eh, emang iya, ada macan di hutan?” tanya Mimi. Dia tidak ingat kakeknya pernah berkata seperti itu.
“Ng… enggak sih...
Read More