Catastrova Prima tagged posts

Hujan, Gulbo dan Es Krim

Gambar diambil dari sini.
Di teras rumahnya yang teduh oleh tanaman rambat, Hujan duduk sambil bertopang dagu. Gulbo mengibaskan ekornya, memandangi tuan kecilnya lekat, kemudian ikut menegakkan punggungnya. Ekornya masih bergerak-gerak seolah ia ingin bertanya, “Apa yang kau pikirkan, Bos?”
“Gulbo, penjual es krim kok belum lewat ya?” tanya Hujan sedikit kesal. Tangannya meremas-remas uang kertas pemberian ibunya tadi pagi. Gulbo berjalan meniti setapak, menuju pagar rumah, mengangkat dua kaki depannya, menoleh ke kanan lalu ke kiri. Tak ada siapapun yang melintas.

Hujan masuk ke dalam rumah dengan cemberut, mengambil komik Kariage Kun, lantas kembali ke teras. Gulbo sudah tengkurap di lantai. Hujan menyandarkan kepalanya ke punggung Gulbo.
“Aku ingin jadi penjual es k...
Read More

Gulbo Sakit

Gambar diambil dari sini.
Gulbo murung di bawah kursi padahal langit pagi sedang cerah seperti warna arum manis. Tubuhnya melingkar, ekornya layu saat aku melintas di depannya. Biasanya anjing Golden Retriever itu tak henti mengibaskan ekor bila aku lewat. Itu pertanda dia senang dan berharap aku mengajaknya bermain lempar tangkap bola. Tapi tidak hari ini. Ia sungguh malas dan tak ingin kuajak bermain.
“Gulbo! Sini!” kusodorkan boneka plastik sebagai umpan agar Gulbo mau mengikutiku.

Gulbo bergeming. Kukeluarkan makanan kecilnya dari laci, kusodorkan ke arahnya. Gulbo sama sekali tak bereaksi. Aku jadi makin gelisah dan berlari ke taman samping di mana ibu sedang merapikan tanaman.
“Ibu, Gulbo murung!” ujarku sambil rebah di kursi rotan seperti raja.
“Ah masa?” Ibu tak ...
Read More

Kakek Penjual Gulali

Bel istirahat baru saja berdentang. Abner dan kawan-kawannya berhamburan keluar kelas dengan riang dan rasa lapar. Beberapa anak langsung menuju kantin sekolah. Beberapa lainnya ada yang memilih bermain.

Abner, Dennis dan Gilang menuju lapangan depan. Seperti biasa, ketiga anak itu beradu kelereng. Di sana, beberapa kakak kelas dan adik kelas sudah menunggu.

“Eh, tapi aku mau jajan dulu di luar,” ujar Dennis. “Ikut yuk!” Dia memberi kode pada Abner.

Abner langsung mengikuti Dennis. Mereka berangkulan menuju gerbang sekolah.

Read More

Asap Ungu

Sudah jam 9 malam. Nadia berjalan menuju kamar mandi, mencuci kaki dan gosok gigi. Setelah itu dia buru-buru melompat ke tempat tidur dengan girang. Dia tak sabar menunggu dongeng yang akan dibacakan ibunya.

“Ayo, Bu! Bacakan dongeng lagi seperti kemarin!” ujarnya.

“Baiklah. Tapi ibu mau ke kamar mandi dulu!”

Nadia bersandar pada boneka-bonekanya yang berjajar di tempat tidur sambil menunggu ibunya kembali dari kamar mandi. Tak lama kemudian ia sumringah lantara melihat ibunya mendekati tempat tidur dan merebahkan diri. Dia mendekat, bersembunyi ke dada ibunya, tangannya menjalar ke ubun-ubun ibunya, kemudian cerita dimulai.

Read More

Tongky Dimakan Televisi

 

Cempluk dan ibunya hari ini sedang malas berburu tikus. Mereka sudah kenyang. Tuan Besar yang baru saja pulang dari luar kota membawakan makan malam istimewa untuk mereka. Daging salmon kemasan yang gurih. Keduanya mendapat jatah di piring yang terpisah. Isinya sama, hanya porsinya yang berbeda. Ibunya dapat jatah lebih banyak, tentu saja. Tapi Cempluk boleh mengambil milik ibunya bila ia masih lapar.

“Kalau masih lapar, kamu boleh habiskan makanan ibu,” kata ibunya.Cempluk yang piringnya sudah kosong berjalan mendekati ibunya.

“Ibu sudah kenyang?” tanya Cempluk.

“Lumayan. Habiskan saja!”

Read More