PADANG YANG HIJAU DAN SUBUR

Selasa siang ini, cuaca sangat panas. Setiap anak bergegas menyetop angkot, taksi, atau becak untuk pulang. Sebagian yang lain berteduh di bawah pohon depan sekolah, menanti jemputan. Tak terkecuali Prasad. Anak kelas empat SD itu duduk di depan warung kelontong seberang sekolahnya untuk menyetop angkot.

“Mbok, ini duitnya kurang. Kalau nggak punya duit, nggak usah ke warung, deh. Di sini tempat jual beli, bukan tempat ngutang.” Terdengar suara pemilik warung yang sedang marah-marah kepada seorang perempuan yang menggendong balita yang sedang menangis.

“Saya janji, besok saya akan bayar, Bu. Suami saya besok pulang kerja dari Jakarta. Saya juga maunya nggak ngutang, Bu. Tapi anak saya butuh susu. Dia nangis terus kalau nggak minum susu. Toh uangnya cuma kurang lima ribu, kan?”

Mendengar percakapan percakapan tersebut, Prasad ingat pesan Bunda. Dia menghampiri sang ibu pemilik warung, lalu menyerahkan uang lima ribuan. “Ini untuk membayar kekurangan ibu itu.”

Sebelum ibu pembeli susu itu mengucapkan terima kasih, Prasad sudah berlari meninggalkan warung. Dia pulang tanpa naik angkot seperti biasanya.

“Prasad, kenapa jam segini baru sampai rumah? Kamu kemana saja? Bunda khawatir nungguin kamu.”

“Eee… anu… uang Prasad tadi jatuh, jadi Prasad pulang jalan kaki.”

***

Gambar dari iStockPhoto

Gambar dari iStockPhoto

Hari Minggu pagi, Prasad mempunyai kebiasaan menemani Bunda belanja sayur di pasar kecamatan. Saat dia dan Bunda membeli bayam, seorang ibu menepuk bahu Prasad.

“Adik? Adik yang lima hari lalu menolong Ibu di warung, kan? Ini Ibu ganti uangnya. Suami Ibu sudah pulang dari Jakarta,” kata ibu itu dengan senyum ramah.

“Eh, Ibu. Nggak usah, Bu.”

“Ibu, kan, jadi nggak enak.”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Terima kasih banyak, ya, Dik. Berkat adik, si kecil bisa minum susu hari itu. Semoga Tuhan membalas seluruh kebaikan Adik.”

Saat ibu itu sudah pergi, Bunda bertanya pada Prasad, “Jadi, lima hari yang lalu, kamu pulang jalan kaki karena uang sakumu kamu gunakan untuk membantu ibu itu?”

Prasad hanya menjawab dengan senyum.

“Kenapa Prasad nggak jujur sama Bunda?”

“Kan, Bunda pernah berpesan kepada Prasad, kalau kita nolong orang, kita nggak boleh mengungkit-ungkitnya. Kita nggak boleh sombong. Kalau kita sombong atau mengungkit-ungkit pemberian, Tuhan akan membalas dengan padang yang gersang. Padang yang nggak bisa ditumbuhi apa-apa. Padang yang penuh barang-barang rongsok yang terbakar. Prasad, kan, ingin kebaikan Prasad dibalas Tuhan dengan padang yang hijau dan subur, Bun. Padang yang ditumbuhi tanaman-tanaman, dialiri sungai yang jernih, dan menyejukkan mata.”

Bunda tersenyum mendengar penjelasan Prasad. (A A Muizz – http://butirbutirhujan.wordpress.com – @aa_muiz)

Tags:  

One comment to PADANG YANG HIJAU DAN SUBUR

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>