Kalah Cepat

“Aduh, ternyata sudah robek.” Didi melihat lubang di bagian bawah tas sekolahnya. Kotak pensilnya hampir saja jatuh di jalan.

Tas merah bergambar tokoh kartun kesukaannya itu merupakan hadiah ulang tahun dari kakeknya. Didi memang sudah menggunakan tas itu sejak kelas 3 SD. Sekarang Didi sudah kelas 5 SD dan ini adalah saat yang tepat untuk Didi meminta ibunya membelikan tas baru.

Gambar dari iStockphoto

Sebelum pulang sekolah, Didi melewati sebuah toko peralatan sekolah yang sering dikunjungi anak-anak sekolahnya. Didi masuk untuk melihat-lihat tas sekolah yang dijual. Ia kemudian melihat sebuah tas berwarna hijau besar. Berbeda dengan tas sebelumnya, tas itu tidak memiliki gambar tokoh kartun. Meskipun begitu, tas itu terlihat kokoh dan memiliki banyak saku.

“Berapa harga tas ini, Pak?” tanya Didi ketika ia dihampiri Pak Jajang, pemilik toko tersebut.

“Harganya 200.000 rupiah. Tapi untuk anak sekolah, ada diskon 15 %. Kamu mau beli tas ini?” tanya pemilik toko.

“Sepertinya begitu, Pak. Tapi aku belum membawa uang yang cukup. Mungkin minggu depan aku akan kemari. Terima kasih banyak, Pak.”

“Sama-sama, Nak. Hati-hati di jalan.”

Didi langsung berlari pulang. Ia tidak sabar bertemu ibunya dan meminta uang untuk membeli tas itu.

Sesampainya di rumah, Didi langsung mandi dan mengerjakan PR. Saat makan malam, ia menyampaikan keinginannya pada ibunya.

“Bunda, Didi mau beli tas baru. Tas Didi yang lama sudah robek.”

“Benarkah?”

“Iya, Bunda. Didi sudah pergi ke toko melihat tas. Didi sudah menemukan tas yang ingin Didi beli.”

“Berapa harganya?” tanya ibu Didi.

“Harganya 200.000 rupiah, tapi ada diskon 15 %.”

“Baiklah. Bunda akan memberimu uangnya. Kamu beli sendiri, ya.”

“Oke, Bu!”

Malam itu Didi sangat senang sampai-sampai ia tidak bisa tidur pukul 8 malam seperti biasa. Ia tidak sabar untuk cepat-cepat membeli tas itu.

Sesuai janji ibu Didi memberikan uang pada Didi untuk membeli tas. Sepulang sekolah Didi langsung pergi ke toko yang ia datangi.kemarin. Akan tetapi, ia tidak melihat tas hijau yang ingin ia beli.

“Tas hijau kemarin mana, Pak?” tanya Didi kepada pemilik toko.

“Wah, sayang sekali kemarin sudah adayang membelinya…”

“Apa tidak ada stok yang masih tersisa?”

“Sayangnya tas itu cuma tersisa satu.”

“Yaaah…” Didi kemudian pulang dengan wajah lesu.

Keeseokan harinya, Didi terkejut melihat teman sekelasnya, Rara. Ia datang menggunakan tas hijau yang Didi inginkan.

“Rara, kamu beli tas itu di mana?”

“Di toko peralatan sekolah Pak Jajang. Bagus kan?” Rara memamerkan tas barunya itu.

“Grrrrr… Kamu curang! Seharusnya tas itu punyaku!” teriak Didi sambil menarik tas hijau itu.

“Lho? Tas ini punyaku!” Rara dan Didi akhirnya saling tarik menarik tas itu. Seluruh isi kelas berkerumun melihat mereka. Tak lama kemudian wali kelas mereka, Bu Lina, datang melerai.

“Ada apa ini? Didi, Rara, kenapa kalian berebut tas seperti ini?” tanya Bu Lina.

“Tas ini harusnya jadi punya saya, Bu. Saya melihatnya kemarin sepulang sekolah. Tapi saya tidak bisa membelinya saat itu karena harus minta uang pada ibu saya dulu!”

“Saya malah tidak tahu apakah Didi sudah melihatnya sebelum saya. Papa membelikan tas ini untuk saya kemarin sore,” Rara membela diri.

“Didi, seharusnya kamu tidak boleh bersikap begini. Kamu harus berbesar hati,” kata Bu Lina, “bagaimanapun juga, tas itu kini sudah jadi punya Rara.”

Didi berhenti menarik tas Rara. Akan tetapi, Didi masih merasa kesal. Saat pulang ke rumah, ia menceritakan semua kejadian di sekolah pada ibunya.

“Sayang sekali. Tapi benar kata Bu Lina, hanya karena kamu lebih dulu melihtanya, bukan berarti kamu berhak atas tas itu. Bagaimana kalau akhir minggu ini Bunda dan Didi jalan-jalan ke toko buku di tengah kota? Manatau kita bisa menemukan tas lain yang kamu inginkan,” kata ibu Didi sambil menghapus air matanya. Didipun mengiyakan. Ia yakin, ia akan menemukan tas yang lebih bagus di toko itu. (Mutiara – http://kelabuberkelambu.blogspot.com/ – Twitter: @mtrjs)

Tags:  

5 comments to Kalah Cepat

  • Eny Tania  says:

    Cerita yang bagus tpi setelah saya dongengkan untuk anak didik saya (anak2 tk) kurang mengena sasaran nya

  • Putri  says:

    kasihan didi ^_^

  • SKIN HEALTH WEB BLOG  says:

    tulis cerita yang lebih banyak lagi ya,,agar sifat2 baik yang akan kita ajarkan ke anak tdk hrs lewat cara formal,,bisa juga lewat cerita yang seperti ini,,terima kasih

  • nicolas  says:

    selalu suka cerita-ceritanya blog ini

  • hargatronik  says:

    titip saran boleh ya min,
    font tulisannya mungkin bisa diperbesar, trus hiasan-hiasan template untuk tema anak-anaknya dipercantik lagi, terima kasih..

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>