Didi Rajin Mengaji

 

 

Gambar dari iStockPhoto

Gambar dari iStockPhoto

Sore itu Umi sedang mempersiapkan masakan untuk makan malam. Sudah jam lima Umi, belum melihat Rara dan Didi pulang bermain. Umi menengok kamar anak-anak, tampak Rara sedang memakai jilbab kuning kesayangan, bersiap-siap pergi mengaji di mushola dekat rumah.

“Sudah siap, Ra? Ke mana Didi?” tanya Umi.

“Masih main di luar, Umi,” jawab Rara sambil mengambil  Quran untuk dibawa ke mushola.

“Rara, pamitan dulu Umi.” Rara mencium tangan Umi dan bergegas menuju mushola. Umi menghela nafas, sungguh sulit menyuruh Didi untuk mengaji, ada saja alasan untuk tidak mengaji di mushola. Mulai dari malas, gak gaul lah, susah lah membaca huruf Arabnya. Umi masih bingung bagaimana caranya agar Didi mau mengaji tanpa paksaan. Sudah banyak petuah yang keluar dari mulut Umi tapi sepertinya tak satupun yang diperhatikan oleh Didi. Umi kembali ke dapur menyelesaikan masaknya. Sampai magrib Didi tidak mengaji di mushola.

***

Siang itu Didi pamitan kepada Umi untuk bermain di luar. Umi baru mendengar dari Bu Nuri kalau Didi dan teman-temannya sering ke warnet untuk main game online di sana.

“Di, Umi tidak melarang kamu bermain. Tapi kamu sering keasyikan bermain sampai lupa mengaji. Siang ini Umi minta kamu untuk mengejar ketertinggalan kamu belajar ngaji,” ujar Umi sambil mengambil  Quran dan  memberikannya pada Didi.

“Umi, aku sudah ditunggu Risky, kan nggak enak sudah janji,” Didi memohon. Umi tetap tidak mengijinkan, karena khawatir Didi lupa pulang cepat untuk mengaji.

“Nanti kalau kamu sudah bisa mengejar ketertinggalanmu, kamu boleh bermain lagi.” Umi berlalu dari kamar meninggalkan Didi yang memasang tampang cemberut. Didi kesal, padahal teman-temannya mengajak main game online di warnet, Didi suka sekali apalagi banyak tantangannya di permainan itu. Didi benar-benar ingin sekali ke warnet menyusul teman-temannya, Didi memandang Qurannya dengan perasaan sebal. Ada bisikan halus di telinganya untuk kabur lewat jendela. Didi melihat jendela kamarnya yang terbuka. Perlahan-lahan dia melompat keluar dari jendela dan melesat menyusul teman-temannya di warnet. Didi senang akhirnya bisa bergabung dengan teman-temannya di warnet. Permainan Dota lebih asyik dibanding belajar mengaji di mushola.

Saat umi masuk kamar dia tak melihat Didi , hanya Qurannya tergeletak di tempat tidurnya. Umi menghela nafas kecewa. Menjelang sore umi dikejutkan oleh seorang pria yang menggotong Didi yang tampak terluka.

“Mengapa anak saya?” Umi mulai panik dan menangis. Ternyata Didi dikeroyok oleh anak-anak dari komplek lain yang berebutan komputer di warnet. Umi memapah Didi masuk ke dalam rumah dan luka-lukanya diobati, tampak Didi meringis kesakitan.

“Maafkan Didi umi, Didi menyesal sekarang,” tangis Didi. Umi hanya diam sambil terus mengobati luka Didi dan menyuruhnya untuk beristirahat. Umi berharap dengan kejadian ini Didi akan berubah dan rajin mengaji.

Sejak kejadian itu Didi tidak pernah lupa untuk segera mengaji mushola setelah bermain sebentar.

“Di, kamu gak gaul,” teriak Joko.

“Kata siapa gak gaul, yang gak ngaji itu yang gak gaul!” teriaknya. Rara tersenyum melihat adiknya yang sekarang setiap hari rajin mengaji. Didi tetap bermain dengan teman-temannya tanpa meninggalkan kewajibannya untuk belajar mengaji. Umi begitu senang melihat perubahan Didi. (Hastira Soekardi – www.mamahtira.blogspot.com – www.puisitira.blogspot.com – FB:Hastira Soekardi – @hastiraS)

 

One comment to Didi Rajin Mengaji

  • bapaknya Ayla  says:

    Bagus kata mba Ayla

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>