DARCY SI PAUS BIRU

Ilustrasi oleh Latree Manohara

Lautan lengang di malam itu, temaram sinar rembulan jatuh membentuk bayangan yang memantul indah di air yang biru jernih. Hawa dingin membuat ikan – ikan enggan meninggalkan palung dan terumbu untuk sekedar berburu makanan atau bercengkerama bersama.

Darcy berenang menuju permukaan, menyemburkan air dengan anggun lalu meliuk kembali ke kedalaman. Darcy adalah seekor anak paus biru yang sangat pendiam. Di lautan itu, keluarga Darcy adalah satu-satunya keluarga paus yang tinggal dan menetap bersama penghuni laut lainnya.

Darcy sangat jarang ikut bermain bergerombol bersama Tuntun dan saudara-saudaranya kawanan ikan tuna, ataupun Bori si anak ubur-ubur. Darcy melewatkan harinya bermain sendirian, terkadang dia berenang mengelilingi palung atau meliuk-liuk di permukaan lautan sambil mengintip matahari yang keemasan di waktu pagi dan sore hari.

Sering kali anak-anak ikan membicarakan Darcy saat mereka bergerombol berenang di antara terumbu.

“Lihat… sombong sekali ya Darcy, mana mau dia berteman dengan kita,” kata Koli si kuda laut.

“Iya… dia lebih suka berenang sendirian di atas sana, mentang-mentang badannya besar .” timpal Tuki kakak Tutun si tuna.

“Pssttt!…. Dia lewat, sebaiknya kita diam dan melanjutkan permainan kita.” Buru-buru Digu si ikan kembung memberi tahu teman-temannya.

Mereka kembali riang bermain petak umpet di antara terumbu karang yang indah di bawah laut. Tutun yang mendapat giliran mencari teman-temannya tertawa terbahak-bahak saat menemukan Koli menyamar di antara terumbu karang berwarna coklat. Sebenarnya Tutun tidak begitu menyadari keberadaan Koli tapi Koli keburu bersin-bersin saat hidungnya kegelian terkena lambaian tentakel terumbu yang meliuk-liuk mengikuti aliran air.

“Hahahaha Kolii lihat aku menemukanmu,” todong Tutun sambil terbahak dan memegangi perutnya.

Koli cemberut sambil terus mengusap hidungnya yang gatal.

Darcy melintas diam sambil mendengarkan anak-anak ikan itu tertawa gembira, di hatinya timbul rasa iri yang selama ini selalu disimpan saat dia melihat mereka bermain bersama. Andaikan ukuran tubuhnya tidak sebesar ini tentu dia akan diajak untuk bermain bersama mereka.

Darcy berlalu dengan sedih. Ibu selalu bilang untuk mencoba menyapa mereka tapi Darcy malu, selain itu Darcy juga takut mereka akan menolak berteman dengan Darcy si makhluk raksasa.

Darcy termenung disebuah palung yang sepi, tidak jauh dari anak-anak itu bermain, tawa mereka sayup-sayup masih terdengar.

“Mereka gembira sekali, anda saja aku bisa bermain bersama mereka,” Darcy bergumam lirih, raut mukanya sendu.

Tuki yang bersembunyi di dalam palung mendengar gumanan Darcy, Tuki tercenung, dengan ragu Tuki berenang keluar palung.

“Darcy….” Darcy kaget lalu buru-buru mengusap airmatanya yang menggenang di pelupuk.

“Kenapa kau tidak bermain bersama kami?” tanya Tuki.

“Aku malu Tuki….badanku besar, aku takut kalian tidak mau bermain denganku.”

“Darcy… kami akan senang sekali bermain denganmu, selama ini kami juga enggan mengajakmu bermain karena kamu tidak pernah menyapa kami. “ Tuki terlihat menyesal.

“Maafkan kami ya Darcy, maafkan aku yang telah mengira kamu anak paus yang sombong.”

Darcy tersenyum, “Tidak apa-apa Tuki, maafkan aku juga ya.”

“Yuk sekarang kita bermain bersama yuk, teman-teman pasti suka bermain denganmu.”

“Benarkah?”

“Tentu, Darcy.” Tuki berenang beriringan bersama Darcy menuju kerumunan anak ikan yang sedang bermain. Sesaat mereka terdiam ketika menyadari keberadaan Darcy.

“Teman-teman ternyata selama ini Darcy malu menyapa kita karena dia berbadan besar, sedangkan kita mengira Darcy sombong karena tidak mau menyapa kita,” kata Tuki.

“Aah Darcy kenapa harus malu? Lihat kamu paus biru yang cantik, aku sangat suka saat melihatmu menyembur dan meliuk di permukaan sana,” kata Bori si ubur-ubur.

Darcy tersenyum.

“Darcy maukah kapan-kapan kau ajak kami bertamasya ke permukaan sana?” tanya Tutun.

“Tentu teman-teman, dengan senang hati.”

“Darcy… terimakasih.” Seru anak-anak ikan itu sambil mengerubuti Darcy dan menggoyang-goyangkan sirip mereka membuat Darcy tergelak kegelian,

Semua gembira, Darcy mempunyai teman-teman baru yang menyenangkan, dan anak-anak ikan belajar untuk tidak berburuk sangka dan saling memaafkan.

Laut hari itu gempita dengan kegembiraan, Darcy membawa teman-temannya bertamasya ke permukaan. Menikmati semburat keemasan mentari yang bersiap pergi. (Putri Meneng – twitter @putrimeneng)

Tags:  

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>