Bukan Salah Kubo

“Kubo!!!” sapa Cia riang ketika tiba di rumah. Kubo adalah kucing jantan kesayangan Cia. Bulunya tebal berwarna Oranye dan sedikit warna putih di bagian perutnya. Hidungnya berwarna merah muda dan matanya berwarna hitam. Kubo sangat lincah! Ia senang sekali berkejaran dengan Cia. Kubo juga senang bersembunyi di kolong kursi. Kalau Kubo sudah begitu, Cia harus membujuk Kubo dengan bola kecil kesayangan Kubo.

Hari itu sepulang sekolah, Cia langsung menuju ke sebuah ruangan di dekat halaman belakang rumah. Cia menyebutnya sebagai kamar Kubo karena di kamar itulah kandang Kubo yang super besar ditaruh. Bibi Yaya selalu menaruh Kubo di dalam kandang kalau Cia sedang pergi ke sekolah. Kata Bibi Yaya biar Kubo tidak kabur keluar rumah seperti pernah terjadi suatu waktu.

“Kubo… Kubo… Cia sudah pulang nih! Kita main yuk, Bo!” Cia kembali berseru riang. Dengan sigap Cia langsung mengeluarkan Kubo dari dalam kandang dan menunjukan sesuatu padanya.

“Bo! Lihat deh!” Cia menunjukan sebuah bola berwarna hijau. Kubo senang sekali dan langsung menghampiri benda bulat itu. Kakinya mencoba menggapai-gapai bola sepak yang dibawa Cia.

Gambar dari iStockPhoto

Gambar dari iStockPhoto

“Tadi di sekolah teman-temanku main bola, Bo. Aku keinget sama kamu. Kamu kan suka bola, Bo! Terus aku pinjem bola milik Rio. Supaya kita bisa main bola berdua! Hehehe”

Cia dan Kubo segera berlari menuju halaman belakang rumah. Halaman tersebut tidak begitu luas untuk bermain karena banyak sekali pot-pot tanaman mama yang berjajar. Mama Cia sangat suka berkebun. Di halaman, Cia dan Kubo saling berebut bola. Seru sekali! Mereka berlari, berebut bola, berlari lagi, berebut bola lagi sampai akhirnya… PRANG!!! Bola yang ditendang Cia mengenai pot kesayangan mama dan pecah.

“Duh! Bagaimana ini? Potnya pecah! Pot kesayangan mama lagi! Mama pasti marah besar nih!” Batin Cia di dalam hati. Cia takut mama marah kepada dirinya. Ia pun mulai mencari-cari alasan.  Cia melihat ke arah Kubo dan… TING! Cia dapat ide!

***

Sore harinya, Mama tiba di rumah. Setelah mengecek Cia yang sedang belajar di kamar, Mama menuju ke halaman belakang. Biasanya Mama menyirami pot-pot tanamannya terlebih dahulu sebelum matahari terbenam. Namun di hari itu… “Cia! Ke sini, sayang.”

Hap! Cia langsung bangkit dari tempat duduknya.

“Tuh kan benar! Mama pasti marah deh!” Segera Cia menghampiri Mama di halaman belakang. “Iya, Ma?”

“Pot Mama kok bisa pecah, Ci? Kata Bi Yaya, tadi siang kamu main bola di sini, ya?”

“Oh… itu Ma…,” Cia mulai  ragu. “Hmm.. iya Ma, tapi bukan Cia yang memecahkan pot Mama.”

“Lalu siapa?” tanya mama.

“Kubo, Ma. Waktu lagi main bola tadi siang, Cia oper bolanya ke Kubo. Kubo ada di deket pot kesayangan Mama. Terus Kubo asik memainkan bolanya sambil mundur-mundur dan menyenggol pot Mama. Pecah deh, Ma,” jawab Cia bohong.

“Oh. Jadi Kubo, ya?” tanya Mama sambil melirik ke arah Cia. Cia pun mengangguk. “Karena Kubo sudah memecahkan pot kesayangan Mama, malam ini Kubo akan tidur di teras depan rumah.” Cia tersentak mendengar perkataan Mama.

Malam harinya, Mama meletakan Kubo di teras depan rumah. Beberapa kali Kubo mencoba masuk ke dalam rumah karena udara di luar sangatlah dingin. Akan tetapi, Mama tidak mengizinkan Kubo masuk ke dalam rumah. Cia jadi merasa bersalah pada Kubo. Di dalam kamarnya, Cia tidur dengan selimut tebalnya. Sedangkan Kubo….

“Kubo pasti kedinginan di luar sana,” kata Cia di dalam hati.

Jam di dinding kamar Cia menunjukan pukul sepuluh malam. Cia bangun dari tempat tidurnya dan mengendap-endap menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu, Cia menyibak gorden perlahan dan di dapatinya Kubo sedang meringkuk di atas kursi teras rumah. Cia sedih sekali melihat Kubo yang kedinginan.

“Cia? Kok belum tidur?” suara Mama mengagetkan Cia. “Cia kenapa menangis?” Mama kembali bertanya dengan lembut.

Cia menghampiri Mama dan memeluknya seraya meminta maaf, “Mama… maafkan Cia, ya!”

“Loh? Kenapa, Cia?”

“Cia yang memecahkan pot kesayangan Mama! Cia yang menendang bola waktu bermain bersama Kubo tadi siang. Bola yang ditendang Cia mengenai pot kesayangan Mama dan pecah.”

“Lalu,  kenapa Cia bilang Kubo yang memecahkan pot kesayangan Mama?”

“Karena Cia takut Mama marah sama Cia. Makanya Cia bilang Kubo yang memecahkan pot Mama,” Cia semakin membenamkan mukanya ke dalam pelukan Mama.

“Cia… Mama tidak marah kok. Mama malah senang kalau Cia berkata jujur kepada Mama. Tadi siang, Bi Yaya sudah menceritakannya kepada Mama. Ia melihat kalau bola yang Cia tendang mengenai pot kesayangan Mama dan pecah,” kata Mama dengan lembut. Mama menghapus air mata Cia sambil tersenyum.

“Kalau begitu, kenapa Mama tetap mengukum Kubo yang tidak bersalah?” Tanya Cia bingung.

“Karena Mama mau Cia berkata jujur dengan mengakui kesalahan Cia. Tanpa melimpahkan kesalahan Cia kepada orang lain. Coba sekarang kamu lihat Kubo. Kasihan kan Kubo yang menanggung akibatnya. Padahal bukan Kubo yang bersalah,” Mama memberitahu Cia dan membelai kepala Cia dengan halus.

Kini Cia tahu kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

“Ma, Cia minta maaf ya. Cia janji tidak akan mengulanginya lagi.” Mama tersenyum dan menganggukan kepalanya. Kemudian Mama membukakan pintu rumah dan mempersilahkan Kubo masuk.

Cia dan Kubo senang sekali. Sebagai permintaan maaf Cia kepada Kubo, Cia mengizinkan Kubo tidur di kamar Cia yang hangat. Tapi sebelumnya, ada yang ingin Cia katakan pada Kubo. Yaitu…

“Kubo! Maafkan Cia ya!” (Annisa Mauliddina – www.selembarlangit.blogspot.com – twitter: @annmauliddina – facebook : Annisa Mauliddina)

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>