Belajar Berenang

Mimi duduk diam di lantai kamarnya. Di hadapannya masih terlipat rapi baju renang yang dibelikan Ibu kemarin.

Dua minggu yang lalu Pak Musa guru olah raga memberikan pengumuman. Mulai bulan ini akan ada kegiatan tambahan untuk pelajaran olah raga. Latihan berenang dua minggu sekali di kolam berenang umum tidak jauh dari sekolah. Teman-teman sekelasnya gembira sekali mendengar pengumuman itu. Tapi Mimi tidak.

Uno mengintip dari balik daun pintu yang tidak ditutup. Sekilas terlintas ide usilnya ingin mengageti Mimi. Tapi niat itu diurungkan, melihat wajah Mimi yang kusut.

“Mimi…” bisik Uno masih dari balik pintu.

“Ya Uno?”

“Boleh aku masuk?”

“Ya…”

Uno masuk dan langsung duduk di hadapan Mimi.

“Besok Mimi latihan berenang ya?”

Mimi mengangguk.

“Jam berapa?”

“Sepulang sekolah.”

“Asyik sekali. Kenapa Mimi tidak bersemangat?”

“Mimi tidak suka berenang. Mimi takut.”

“Kenapa?”

“Mimi takut tenggelam…”

Uno tertawa terbahak-bahak.

“Uno! Ada orang takut tenggelam kok malah ditertawakan?”

“Oh.. maaf… maaf Mimi… Ah! Mimi kan tidak sedang tenggelam. Kalau ada orang tenggelam trus Uno ketawain itu baru salah. Uno tertawa karena Mimi lucu. Lucu!”

Mimi cemberut.

“Mimi belum mencoba, tapi sudah takut tenggelam. Makanya kita belajar berenang, supaya tidak tenggelam. Kalau belum bisa, pasti nanti akan diajari oleh Pak Musa dan Bu Rina. Ya kan?”

Mimi diam saja.

“Sudah… jangan takut, Mimi, besok Uno temani!”

Mimi melirik ke arah Uno.

“Hm… Uno akan minta ijin pada Ibu untuk menemani Mimi. Gimana?”

Mimi mengangkat bahu, “Terserah.”

***

Gambar dari iStockPhoto

Gambar dari iStockPhoto

Esok harinya sepulang sekolah, Mimi dan kawan-kawan sekelasnya sudah berkumpul di dekat gerbang. Pak Musa dan Bu Rina juga sudah siap. Uno juga sudah siap. Ibu mengijinkan Uno menemani Mimi. Pak Musa pun tidak keberatan Uno ikut berlatih bersama anak-anak kelas tiga. Ternyata juga ada teman sekelas Uno, Fathir dan Radhi!

Mereka berjalan kaki dalam barisan dua-dua yang rapi. Mimi menggandeng tangan Uno. Dalam hati, Mimi merasa lebih tenang karena ada Uno. Sesampai di kolam renang, semua berganti pakaian, lalu berbaris di tepi kolam dan mulai melakukan pemanasan.

“Anak laki-laki belajar bersama Pak Musa, yang perempuan belajar bersama Bu Rina,” Bu Rina memberi penjelasan, “kita akan mulai di kolam dangkal yang di ujung sana. Jangan memisahkan diri dan masuk ke kolam dalam ya?”

“Tapi saya sudah bisa berenang di kolam dalam, Bu,” Lisa mengangkat tangan, “saya sudah les berenang sejak TK.”

Teman-teman Mimi kagum melihat ke arah Lisa.

“Hm… itu bagus, Lisa. Tapi kita semua mulai di kolam dangkal dulu ya. Nanti Pak Musa akan melihat siapa yang sudah siap pindah ke kolam dalam…”

Lisa mendengus kesal. Tapi dia tetap menurut.

Latihan berenang dimulai. Mimi yang awalnya takut masuk ke kolam, mulai senang bermain air bersama teman-temannya. Ternyata selain Lisa, ada bebarapa lagi yang sudah bisa berenang. Naia juga sudah bisa. Dia membantu Mimi belajar meluncur dan mengambang. Sesekali Mimi tersedak air sampai terbatuk-batuk.

“Jangan menyerah, Mimi! Dulu aku  juga seperti itu. Nanti lama-lama kita akan tahu cara bernapas supaya tidak tersedak,” Naia terus memberi semangat.

Setelah satu  jam berlatih, anak-anak diberi waktu tambahan untuk bermain. Uno yang diam-diam membawa bola karet dari rumah, bermain lempar bola di kolam dangkal bersama Fathir dan Radhi. Setelah waktu habis, semua diminta berkemas dan pulang ke rumah masing-masing.

***

Uno, Mimi, Naia, Radhi, dan Fathir berjalan pulang bersama-sama. Ketakutan Mimi sedikit berkurang karena mereka ikut latihan. Apalagi Naia dan Fathir ternyata sudah jago berenang.

“Terima kasih ya Uno, sudah mau menemani latihan. Sekarang Mimi tidak takut latihan berenang lagi. Mimi akan terus latihan supaya jago seperti Naia dan Fathir,” kata Mimi ceria sambil berjalan paling belakang.

“Santai saja Mimi,” jawab Uno yang berjalan di depannya. “Sebenarnya aku ingin ikut bukan hanya karena mau menemani Mimi supaya tidak takut. Tapi… karena aku memang ingin berenang sama Radhi dan Fathir. Kalau tidak ada alasan kuat, mungkin Ibu tidak mengijinkan, hehe…”

“Apa???”

Sebelum Mimi berhasil meninju, Uno sudah lari terlebih dahulu. Kawan-kawannya bersorak dari belakang. Ah, dasar Uno. (Latree Manohara)

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>