Hari Ulang Tahun Bu Rowena

Bu Rowena adalah pelukis terkenal di Houston. Lukisannya sangat digemari oleh banyak orang. Ia sering melukis tentang suasana keluarga yang hangat serta anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Para pembeli lukisannya bahkan berdatangan dari kota-kota seberang. Dengan keuntungan yang didapat dari menjual lukisan, ia tinggal di rumah mewah di pusat kota. Sayang hari-harinya sangat kesepian. Tak ada sanak keluarga atau binatang peliharaan yang menemaninya. Hari-harinya selalu berkutat dengan pekerjaan. Bangun pagi, melukis, makan, mandi, melayani pembeli lalu tidur larut. Begitu setiap hari.

ilustrasi oleh Masya Ruhulessin

Pada suatu minggu di Bulan Oktober yang cerah, Bu Rowena berulang tahun. Ia mendapat banyak sekali hadiah mewah dari para penggemarnya...

Read More

Rido Ingin Naik Motor.

Rido mengayuh sepedanya mengelilingi blok. Ini sudah kedua kalinya. Dia mulai bosan, lalu memutuskan untuk bersepeda keluar blok. Yang penting tidak ke jalan raya, seperti pesan Mama. Baiklah, ke blok sebelah saja, di sana ada lapangan yang sudah disulap menjadi trek tantangan untuk sepeda.

Tapi lapangan itu sepi. Cuma ada seekor ayam betina yang sedang mengais-ngais, dikelilingi tujuh ekor anaknya yang menciap-ciap.

Rido mengayuh malas ke ujung lapangan, lalu pelan melintasi berbagai rintangan. Gundukan yang kecil, yang besar. Tiang-tiang zig-zag. Setelah satu putaran dia menambah kecepatan. Penuh semangat. Dia berhasil  melompat cukup tinggi di gundukan paling sulit.

Tapi sepi. Tidak ada sorak. Hanya dia sendiri yang berteriak. Mengejutkan ayam-ayam yang sedang mencari makan.

Ini tidak ...

Read More

PADANG YANG HIJAU DAN SUBUR

Selasa siang ini, cuaca sangat panas. Setiap anak bergegas menyetop angkot, taksi, atau becak untuk pulang. Sebagian yang lain berteduh di bawah pohon depan sekolah, menanti jemputan. Tak terkecuali Prasad. Anak kelas empat SD itu duduk di depan warung kelontong seberang sekolahnya untuk menyetop angkot.

“Mbok, ini duitnya kurang. Kalau nggak punya duit, nggak usah ke warung, deh. Di sini tempat jual beli, bukan tempat ngutang.” Terdengar suara pemilik warung yang sedang marah-marah kepada seorang perempuan yang menggendong balita yang sedang menangis.

“Saya janji, besok saya akan bayar, Bu. Suami saya besok pulang kerja dari Jakarta. Saya juga maunya nggak ngutang, Bu. Tapi anak saya butuh susu. Dia nangis terus kalau nggak minum susu. Toh uangnya cuma kurang lima ribu, kan?”

Mend...

Read More

Didi Rajin Mengaji

Gambar dari iStockPhoto

Gambar dari iStockPhoto

Sore itu Umi sedang mempersiapkan masakan untuk makan malam. Sudah jam lima Umi, belum melihat Rara dan Didi pulang bermain. Umi menengok kamar anak-anak, tampak Rara sedang memakai jilbab kuning kesayangan, bersiap-siap pergi mengaji di mushola dekat rumah.

“Sudah siap, Ra? Ke mana Didi?” tanya Umi.

“Masih main di luar, Umi,” jawab Rara sambil mengambil  Quran untuk dibawa ke mushola.

“Rara, pamitan dulu Umi.” Rara mencium tangan Umi dan bergegas menuju mushola. Umi menghela nafas, sungguh sulit menyuruh Didi untuk mengaji, ada saja alasan untuk tidak mengaji di mushola. Mulai dari malas, gak gaul lah, susah lah membaca huruf Arabnya. Umi masih bingung bagaimana caranya agar Didi mau mengaji tanpa paksaan...

Read More

Penyu dan Merpati

penyu dan merpati

Gambar dari iStockPHoto

Angin laut berembus tak terlalu kencang, membuat dahan dan daun-daun kelapa berayun dan menari. Di atas kelapa yang terjatuh oleh angin, seekor burung merpati hinggap tepat di depan seekor penyu.

“Hei, Penyu! Nggak bosan kamu berjalan lambat gitu? Aku, dong, bisa terbang mengelilingi angkasa. Melintasi samudera luas, pedesaan, perkotaan, hutan, dan tempat-tempat yang tak mungkin kamu jangkau. Kasihan sekali, kau! Hahaha,” kata sang Merpati sambil mengibaskan sepasang sayapnya dan memamerkan bulu-bulunya yang indah.

“Lihat ini!” Sang Merpati terbang tinggi, menunjukkan kehebatannya. Sang Penyu melihatnya sambil tersenyum...

Read More

Monki Mengambek

KAMPUNG Pipit mendadak heboh. Kejadiannya Minggu pagi hari. Tiba-tiba muncul seekor monyet yang berkeliaran. Monyet itu mengejar sekelompok anak yang sedang bermain di lapangan. Anak-anak itu menjerit dan tertawa. Mereka menyebar supaya monyet itu tidak lagi mengejar. Namun si monyet terus saja mengikuti. Malangnya, dia berlari mengejar Pipit. Pipit menjerit-jerit saat si monyet mencoba bergelantungan di kakinya. Dia merasa geli.

“Eh, itu kan monyet peliharaannya Ilman!” seru seorang anak, mendadak mengenali.

“Oh, iya, itu kan si Monki. Kenapa berkeliaran begini?” sahut yang lain.

Gambar dari iStockPhoto

Gambar dari iStockPhoto

Pipit tidak peduli apakah monyet ini benar-benar si Monki peliharaan Ilman atau bukan. Yang ada di kepalanya sekarang adalah berlari secepat mungkin...

Read More