Medali Punya Pipi?

Ilustrasi oleh Latree

Ilustrasi oleh Latree

Mooooo. Pipi Si Sapi Betina berjalan menuju padang rumput di balik bukit. Pagi ini seperti biasa Pipi merumput di sana. Padang rumput di balik bukit terkenal dengan rumputnya yang segar dan hijau. Pipi dan teman-temannya sangat suka makan di sana.

Mooooo. Pipi tidak sengaja menginjak sesuatu yang keras. Benda apakah itu? Ternyata itu adalah sebuah medali. Medali itu terbuat dari emas dan berkilauan menyilaukan mata Pipi. Pipi mendekat dan berdecak kagum. Pipi tidak pernah melihat medali sebesar dan seberkilau itu. Pipi kemudian mengambil dan mengalungkan medali itu di lehernya. Teman-temannya pasti kagum dengannya.

Tak jauh dari situ, Pipi bertemu dengan Koko Si Ayam Jago. Saat ia melihat medali di leher Pipi, ia berkokok lantang. Kukuruyuuuk...

Read More

Kalah Cepat

“Aduh, ternyata sudah robek.” Didi melihat lubang di bagian bawah tas sekolahnya. Kotak pensilnya hampir saja jatuh di jalan.

Tas merah bergambar tokoh kartun kesukaannya itu merupakan hadiah ulang tahun dari kakeknya. Didi memang sudah menggunakan tas itu sejak kelas 3 SD. Sekarang Didi sudah kelas 5 SD dan ini adalah saat yang tepat untuk Didi meminta ibunya membelikan tas baru.

Gambar dari iStockphoto

Sebelum pulang sekolah, Didi melewati sebuah toko peralatan sekolah yang sering dikunjungi anak-anak sekolahnya. Didi masuk untuk melihat-lihat tas sekolah yang dijual. Ia kemudian melihat sebuah tas berwarna hijau besar. Berbeda dengan tas sebelumnya, tas itu tidak memiliki gambar tokoh kartun. Meskipun begitu, tas itu terlihat kokoh dan memiliki banyak saku.

Read More

Bukan Salah Kubo

“Kubo!!!” sapa Cia riang ketika tiba di rumah. Kubo adalah kucing jantan kesayangan Cia. Bulunya tebal berwarna Oranye dan sedikit warna putih di bagian perutnya. Hidungnya berwarna merah muda dan matanya berwarna hitam. Kubo sangat lincah! Ia senang sekali berkejaran dengan Cia. Kubo juga senang bersembunyi di kolong kursi. Kalau Kubo sudah begitu, Cia harus membujuk Kubo dengan bola kecil kesayangan Kubo.

Hari itu sepulang sekolah, Cia langsung menuju ke sebuah ruangan di dekat halaman belakang rumah. Cia menyebutnya sebagai kamar Kubo karena di kamar itulah kandang Kubo yang super besar ditaruh. Bibi Yaya selalu menaruh Kubo di dalam kandang kalau Cia sedang pergi ke sekolah. Kata Bibi Yaya biar Kubo tidak kabur keluar rumah seperti pernah terjadi suatu waktu.

“Kubo… Kubo… Cia sudah...

Read More

Hari Ulang Tahun Bu Rowena

Bu Rowena adalah pelukis terkenal di Houston. Lukisannya sangat digemari oleh banyak orang. Ia sering melukis tentang suasana keluarga yang hangat serta anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Para pembeli lukisannya bahkan berdatangan dari kota-kota seberang. Dengan keuntungan yang didapat dari menjual lukisan, ia tinggal di rumah mewah di pusat kota. Sayang hari-harinya sangat kesepian. Tak ada sanak keluarga atau binatang peliharaan yang menemaninya. Hari-harinya selalu berkutat dengan pekerjaan. Bangun pagi, melukis, makan, mandi, melayani pembeli lalu tidur larut. Begitu setiap hari.

ilustrasi oleh Masya Ruhulessin

Pada suatu minggu di Bulan Oktober yang cerah, Bu Rowena berulang tahun. Ia mendapat banyak sekali hadiah mewah dari para penggemarnya...

Read More

Rido Ingin Naik Motor.

Rido mengayuh sepedanya mengelilingi blok. Ini sudah kedua kalinya. Dia mulai bosan, lalu memutuskan untuk bersepeda keluar blok. Yang penting tidak ke jalan raya, seperti pesan Mama. Baiklah, ke blok sebelah saja, di sana ada lapangan yang sudah disulap menjadi trek tantangan untuk sepeda.

Tapi lapangan itu sepi. Cuma ada seekor ayam betina yang sedang mengais-ngais, dikelilingi tujuh ekor anaknya yang menciap-ciap.

Rido mengayuh malas ke ujung lapangan, lalu pelan melintasi berbagai rintangan. Gundukan yang kecil, yang besar. Tiang-tiang zig-zag. Setelah satu putaran dia menambah kecepatan. Penuh semangat. Dia berhasil  melompat cukup tinggi di gundukan paling sulit.

Tapi sepi. Tidak ada sorak. Hanya dia sendiri yang berteriak. Mengejutkan ayam-ayam yang sedang mencari makan.

Ini tidak ...

Read More

PADANG YANG HIJAU DAN SUBUR

Selasa siang ini, cuaca sangat panas. Setiap anak bergegas menyetop angkot, taksi, atau becak untuk pulang. Sebagian yang lain berteduh di bawah pohon depan sekolah, menanti jemputan. Tak terkecuali Prasad. Anak kelas empat SD itu duduk di depan warung kelontong seberang sekolahnya untuk menyetop angkot.

“Mbok, ini duitnya kurang. Kalau nggak punya duit, nggak usah ke warung, deh. Di sini tempat jual beli, bukan tempat ngutang.” Terdengar suara pemilik warung yang sedang marah-marah kepada seorang perempuan yang menggendong balita yang sedang menangis.

“Saya janji, besok saya akan bayar, Bu. Suami saya besok pulang kerja dari Jakarta. Saya juga maunya nggak ngutang, Bu. Tapi anak saya butuh susu. Dia nangis terus kalau nggak minum susu. Toh uangnya cuma kurang lima ribu, kan?”

Mend...

Read More