PADANG YANG HIJAU DAN SUBUR

Selasa siang ini, cuaca sangat panas. Setiap anak bergegas menyetop angkot, taksi, atau becak untuk pulang. Sebagian yang lain berteduh di bawah pohon depan sekolah, menanti jemputan. Tak terkecuali Prasad. Anak kelas empat SD itu duduk di depan warung kelontong seberang sekolahnya untuk menyetop angkot.

“Mbok, ini duitnya kurang. Kalau nggak punya duit, nggak usah ke warung, deh. Di sini tempat jual beli, bukan tempat ngutang.” Terdengar suara pemilik warung yang sedang marah-marah kepada seorang perempuan yang menggendong balita yang sedang menangis.

“Saya janji, besok saya akan bayar, Bu. Suami saya besok pulang kerja dari Jakarta. Saya juga maunya nggak ngutang, Bu. Tapi anak saya butuh susu. Dia nangis terus kalau nggak minum susu. Toh uangnya cuma kurang lima ribu, kan?”

Mend...

Read More

Didi Rajin Mengaji

Gambar dari iStockPhoto

Gambar dari iStockPhoto

Sore itu Umi sedang mempersiapkan masakan untuk makan malam. Sudah jam lima Umi, belum melihat Rara dan Didi pulang bermain. Umi menengok kamar anak-anak, tampak Rara sedang memakai jilbab kuning kesayangan, bersiap-siap pergi mengaji di mushola dekat rumah.

“Sudah siap, Ra? Ke mana Didi?” tanya Umi.

“Masih main di luar, Umi,” jawab Rara sambil mengambil  Quran untuk dibawa ke mushola.

“Rara, pamitan dulu Umi.” Rara mencium tangan Umi dan bergegas menuju mushola. Umi menghela nafas, sungguh sulit menyuruh Didi untuk mengaji, ada saja alasan untuk tidak mengaji di mushola. Mulai dari malas, gak gaul lah, susah lah membaca huruf Arabnya. Umi masih bingung bagaimana caranya agar Didi mau mengaji tanpa paksaan...

Read More

Penyu dan Merpati

penyu dan merpati

Gambar dari iStockPHoto

Angin laut berembus tak terlalu kencang, membuat dahan dan daun-daun kelapa berayun dan menari. Di atas kelapa yang terjatuh oleh angin, seekor burung merpati hinggap tepat di depan seekor penyu.

“Hei, Penyu! Nggak bosan kamu berjalan lambat gitu? Aku, dong, bisa terbang mengelilingi angkasa. Melintasi samudera luas, pedesaan, perkotaan, hutan, dan tempat-tempat yang tak mungkin kamu jangkau. Kasihan sekali, kau! Hahaha,” kata sang Merpati sambil mengibaskan sepasang sayapnya dan memamerkan bulu-bulunya yang indah.

“Lihat ini!” Sang Merpati terbang tinggi, menunjukkan kehebatannya. Sang Penyu melihatnya sambil tersenyum...

Read More

Monki Mengambek

KAMPUNG Pipit mendadak heboh. Kejadiannya Minggu pagi hari. Tiba-tiba muncul seekor monyet yang berkeliaran. Monyet itu mengejar sekelompok anak yang sedang bermain di lapangan. Anak-anak itu menjerit dan tertawa. Mereka menyebar supaya monyet itu tidak lagi mengejar. Namun si monyet terus saja mengikuti. Malangnya, dia berlari mengejar Pipit. Pipit menjerit-jerit saat si monyet mencoba bergelantungan di kakinya. Dia merasa geli.

“Eh, itu kan monyet peliharaannya Ilman!” seru seorang anak, mendadak mengenali.

“Oh, iya, itu kan si Monki. Kenapa berkeliaran begini?” sahut yang lain.

Gambar dari iStockPhoto

Gambar dari iStockPhoto

Pipit tidak peduli apakah monyet ini benar-benar si Monki peliharaan Ilman atau bukan. Yang ada di kepalanya sekarang adalah berlari secepat mungkin...

Read More

Untuk Mang Ujang

Teng! Teng! Teng!

Lonceng berbunyi. Murid-murid kelas tiga SD Cerdas Merdeka berhamburan, juga kelas-kelas yang lain. Mereka menyerbu area kantin sekolah. Di kantin ada berbagai gerobak yang menjual berbagai macam makanan, camilan dan minuman. Ada gerobak soto Pak Maman, ada gerobak ketoprak Bang Maun, ada sup buah Bu Eti dan lain-lain.

Yang paling ramai tentu saja gerobak siomay Mang Ujang. Siomay-nya enak sekali. Tak hanya siomay, Mang Ujang juga menyediakan telur rebus, kentang dan juga tahu yang juga berisi siomay. Mau rebus saja, atau digoreng, tinggal bilang. Bumbu kacangnya juga ada dua macam, yang pedas dan yang tak pedas. Anak-anak boleh memilih yang mana saja yang mereka suka. Dan tahukah kamu, berapa harga satu siomay-nya? Rp 500,00. Iya, murah sekali ya?

Selain siomay yang mura...

Read More

Misteri Tong Sampah

Gambar dari iStockPhoto

Bel istirahat berbunyi, Lita sudah tidak sabar hendak ke kantin, rasanya perutnya minta diisi karena tadi pagi Lita bangun kesiangan sehingga tidak sempat sarapan. Dubrak!!!!! Lita terjatuh, pantatnya sakit sekali. Doni membantunya berdiri.

“Makasih Don,“ kata Lita sambil memperhatikan apa yang menyebabkan dia jatuh, oh ternyata bungkus es yang plastiknya basah sehingga membuat lantai menjadi licin.

“Nah, begini ini kalau ada yang suka buang sampah sembarangan, orang lain yang kena akibatnya,” gerutu Lita sambil berlalu. Doni menatap wajah Lita yang terlihat kesal dan mengikutinya dari belakang. Setelah Lita memesan mie ayam, dia mencari tempat duduk. Baru dia merasa kalau dari tadi Doni mengikutinya.

“Eh, ngapain kamu ngikutin aku?” tanya Lita  sambil duduk di kursi kantin...

Read More